Okaeri nasai….Kore wa ritoma-chan no blog… this is just simply me in an amazing life..
<

Sory lama ni baru posting lagi, lil bussy lately ..

Aku dah bilang kan kalo salah satu inspirasiku adalah Oprah ^_^, kali aja lupa. Well termasuk bagaimana aku menemukan 3 langkah berikut. Inget edisi Oprah tentang trauma masa kecil? pada episode itu juga menampilkan bagaimana sang Suami berusaha untuk menghilangkan traumanya dengan melakukan langkah-langkah yang diberikan oleh psikolognya. Aku mencoba langkah2 itu, and hey! its works for me. So mungkin bisa dicoba juga, who knows, bisa membantumu meraih hari yang baru. Here they are:

  1. Cari dari mana kita mendapatkan luka itu, dan sembuhkan dari situ

  2. Memaafkan, semua yang terkait dengan luka itu termasuk diri kita sendiri

  3. Move forward, buat langkah2 untuk maju.

Akan kucoba uraikan satu2 ya:

  1. Cari dari mana Luka yang kita dapatkan berasal: well basicly langkahnya adalah tentang menemukan penyebab luka yang kita rasakan. Kembali ke masa lalu, dan mengurutkan rangkaian hidup kita. Seperti membuat biografi, atau membuat film dokumenter tentang hidup kita, saat kecil, tumbuh dan sampai sekarang. Ini proses yang sangat menguras emosiku, 3 hari ketika ku coba melakukan tahap ini, bisa kubilang menjadi saat paling histeris yang      pernah kualami.

Aku pertama kali melakukan tahap ini sendiri, memutar tombol rewind tentang satu persatu rangkaian hidupku, dari mulai kecil sampai sekarang. Mencoba mengingat moment2 yang berarti dalam hidupku. 3 hari hanya berbaring depan TV (aku selalu nyaman kalau depan TV ^_^) gak keluar rumah sampai gak makan. Huih…. that was tough, setelah aku tahu akar permasalahannya, aku menghubungi dua temanku untuk menemani tahap selanjutnya. Aku sadar ini tidak bisa dilakukan sendiri.

Moment paling menyakitkan yang kurasakan adalah ketika aku baru menyadari bahwa “I’m not okay!”. Aku merasa sendiri, terluka, kecewa, marah, dan takut. Dari sinilah luka itu berasal.

Selama ini aku merasa nothings wrong with me, I’m fine, segala kesulitan ya harus disikapi dengan sabar aja, buat apa dikeluhkan. Memangnya hanya aku saja yang punya masalah. Jangan suka merasa paling menderita deh!!. Sangat menyedihkan ketika harus mengakui bahwa, I’m not that strong, I’m weak. Padahal, tidak apa-apa jika kita sesekali merasa lemah, itu fitrah, kita cuma manusia biasa.

Ketika kita sudah menemukan dari mana luka itu dan apa luka yang kita alami, katakanlah “aku tidak ingin luka ini membuatku tidak bisa melanjutkan hidup, aku tidak ingin luka ini mencegahku dari hidup yang kuinginkan, hidup yang bermakna, AKU INGIN SEMBUH!!”. Ini tahap yang penting, karena sembuh tidaknya kita tergantung dari diri kita sendiri. Orang lain hanya membantu kita, tapi keputusan akhirnya ada pada diri kita. Tekadkanlah bahwa kita akan mengakhiri semua derita dari luka itu.

  1. Memaafkan: tahap ini bisa dibilang masih ku jalani, terdengar mudah tapi sulit sekali. Memaafkan semua yang terjadi, luka dan kesedihan yang kita alami. Yang paling penting adalah memaafkan diri kita sendiri. Mengikhlaskan segala skenario yang telah Allah buat untuk kita.

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

QS Ali ‘imran: 134

“Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.”

QS An Nisa: 149

Waktu proses ini kulakukan, aku masih belum sanggup mengatakan “maaf” ku lebih memilih melepaskan. Setiap kali aku berusaha memaafkan segalanya, aku merasa bersalah terhadap ibuku. Ketika memaafkan berarti aku sudah melupakan ibuku. Padahal ia tentu ingin aku bahagia dan tidak hidup dengan rasa bersalah kan. Karena hidup dengan menyalahkan orang lain atau diri sendiri adalah hidup dengan ketakutan.

Tahap awal yang kulakukan untuk memaafkan diriku adalah dengan mencoba kembali mengejar mimpi2ku. Starting pointnya waktu aku memutuskan ke Jogja untuk ketiga kalinya. Temanku meminta untuk membantunya mengerjakan project film bersama temannya. Sekalian juga aku ingin mengerjakan film dokumenter dengannya. Ho ho, hatiku langsung bilang “iya! Kapan lagi ada kesempatan seperti ini” tapi berarti aku gak kerja, gak dapat penghasilan malah ngabisin uang donk. Namun aku menuruti kata hatiku untuk pergi ke Jogja. Nobody can stop me! Apa lagi kalau hanya sekedar ketakutan terhadap materi. Aku ke Jogja, and you know, aku berhasil membuat filmku sendiri untuk yang pertama kalinya. Pengalaman luar biasa yang tidak bisa diukur dengan materi.

Satu lagi caraku untuk memaafkan adalah dengan bersyukur, maksudnya? Well, semua orang mungkin mengalami masalah yang sama, tapi cara kita menyikapi masalahlah yang membuat kita berbeda. Aku bersyukur karena telah diberikan masalah, karena masalah yang datang membuatku bisa belajar, belajar untuk bangkit, menjadi lebih dewasa dan menjadi lebih kuat. Segala apa yang terjadi dan yang kualami telah membuatku menjadi “aku” yang saat ini. Dan tidak ada yang kusesali tentang itu. Terima kasih ya Allah ^_^v

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

QS Al Baqarah: 152

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

QS Ibrahim: 7

Jadi maafkanlah, ikhlaskanlah, karena setelah kita melakukannya, beban berat yang selama ini kita pikul seakan terbang, hidup terasa begitu lapang. Tidak harus sekaligus, lakukanlah secara bertahap.

Let it be…

  1. The final step adalah Move Forward: Buat langkah-langkah untuk meneruskan hidup kita. Well pada awalnya aku masih bingung mau ngapain, apa yang harus dilakukan terlebih dahulu atau tentang dengan cara apa aku move forward.

    Namun perlahan seiring waktu sedikit demi sedikit ketemu juga caranya. Satu hal yang pasti, perlu tekad yang kuat. Karena tahap ini jadi penentu berhasil tidaknya usaha yang kita jalani tapi juga merupakan tahap yang paling sulit.  Tentang menjaga konsistensi dan kesinambungan untuk terus menerus menghilangkan ketakutan-ketakutan yang kita miliki. Bertahap tapi berprogress, jangan jalan ditempat. Tahap ini bisa dibilang paling banyak ujiannya. Masalah datang silih berganti, dan jika kita tidak punya tekad yang kuat, kita mungkin menyerah. Dan akhirnya semua sia-sia.

     Aku berikan sedikit gambaran, kenapa ini tahap paling sulit. Menurut psikolog yang di Oprah, orang yang hidup dengan trauma akan selalu kesulitan meneruskan hidup karena trauma itu terus membayangi segala aspek kehidupannya. Setiap kejadian yang dialami apakah itu baik atau buruk bisa jadi semacam tombol rewind, flash back ke masa lalu, yang kemudian memunculkan semua luka itu kembali.

    Jika hal buruk yang terjadi, maka seketika kita menjadi teringat semua memori buruk yang pernah kita alami. Hal ini makin membuat kita senantiasa takut dalam melangkah, takut semua memori itu terulang di kehidupan yang sekarang. Jika hal baik yang terjadi, kita akan merasa ragu dengan itu, its like, this is real or not?. Ada semacam ketakutan untuk bahagia, apakah ini cuma fatamorgana? Ingin berharap tapi takut semua harapan itu akan kembali berujung kekecewaan.

    Hal yang sama juga terjadi padaku, satu diantaranya yang berkaitan dengan pernikahan. Ketika aku dekat dengan seseorang laki-laki, dan mencoba berharap things are get better, akhirnya aku yang selalu pergi ketika “The Guy” mulai berbicara tentang pernikahan. I’m sorry, so sorry….

The X man: would you marry me?

ritomA: hmm wait a minute,… you know, suddenly I don’t like you anymore..

  The X man: what do you mean??

ritomA: well, it’s little complicated, ..but sorry, I gotta go, see ya..

The X man: where are you goin’??

ritomA: some where than here..bye!

(if this happen to you, ho ho you have problem girl. Find the problem and than fix it).

He he, intermezo…ok back to the step.

    Satu diantara langkah yang kuambil, agar ketakutan menikahku hilang adalah menambah pengetahuanku lagi tentang pernikahan, dari buku, diskusi bahkan sampai kuliah tambahan he he. Agak tidak nyaman pada awalnya, tapi bisa ternyata and it works, aku jadi punya sudut pandang yang berbeda. O ya, make sure, you discuss it with the right people, right books and jangan berhenti untuk membuka pikiran kita, keep open our mind.

    Tahap ketiga ini bisa dimulai dengan mencoba merenungkan kembali tentang arti hidup bagi kita. Apa yang ingin kita capai dalam hidup dan dengan cara apa kita ingin menjalani hidup. Merenungkan tentang kehidupan yang bermakna bagi kita. Itu akan memudahkan kita untuk menentukan langkah apa yang akan kita lakukan. Prosesnya bertahap jadi jangan khawatir kalau masih belum memiliki gambaran pada awalnya. Seiring waktu kita akan menemukan caranya kok. So keep fighting and don’t give up ok! ^_^v

    Itulah tiga tahap yang coba kulakukan selama ini, melelahkan tapi merupakan proses pembelajaran yang sangat luar biasa. Ada hal yang perlu kutekankan, pastikan ada yang menemani kita dalam melakukan proses ini. Teman yang benar-benar mendukung proses penyembuhan kita, yang bisa membuat kita stick to the goal, meluruskan ketika menyimpang, karena proses ini bukanlah proses untuk meratapi dan menangisi nasib, namun tentang sebuah proses untuk mendapatkan kesembuhan agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kehidupan tanpa ketakutan.

    Sama seperti kata teman sepenjaranya Fahri di AAC, Kunci untuk menjalani segala permasalahan hidup adalah dengan sabar dan ikhlas, plus aku tambahin satu yaitu syukur. Terdengar klise, tapi memang inilah kuncinya. Trust me!

    Yup thats all. I hope that, I’m already at the end of the road, di penghujung jalan ujian ini, untuk menapaki ujian-ujian selanjutnya.

Semoga bisa diambil hikmahnya dan bisa bermanfaat.

Everything happen for a reason InsyaAllah.

    Ok cerita tentang sisi terlemahku selesai, sekarang itu bukan lagi titik terlemahku InsyaAllah. Aku sedang mencoba untuk Move On with my life. Doakan yak, Gambarimasu! ^_^v

    Untuk sahabat dan teman2ku, Terima Kasih atas segala dukungannya selama ini, untuk my 3 soulmate (Arufi-chan, Dee-chan, and Po-Chan), my Big Bro Ms Khafid, Na-chan, Uni-chan, and also Do-chan (my editor..he he).

   Last but not least buat temen2 Al Manar Jogja (Solo kali ya sekarang) atas segalanya dan atas mimpi-mimpi yang menjadi nyata, terima kasih dan mohon maaf karena selalu merepotkan ya. Entar aku belajar naik motor deh, kapan-kapan.. ^_^v

   Serta semua yang telah menjejakkan langkah-langkahnya, sehingga aku bisa menjadi ritomA yang memiliki hidup yang bermakna..

Domo ne… Hountoni Domo Arigato…

Semoga Allah meridhoi, amien.

Dare to hope

Dare to dream

Dare to live

Have a meaningful life guys!!

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dan pada masing-masing mukmin ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah kepada Allah dan jangan merasa tidak mampu. Jika ada sesuatu menimpamu jangan katakan ‘kalau saja aku, melakukan ini dan itu pastilah begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah ‘Allah SWT telah menakdirkan dan apa yang dikehendakinya akan dijalankan’ Sebab jikalau-jikalau (kalau saja-kalau saja) itu membuka kerja syetan”

(HR Muslim)

Saatnya untuk maju, next story continue to..

                                                                                        Nikah Yuk….

June 6th, 2008 at 6:18 am